Selasa, 22 Oktober 2019

Pelangi Tanpa Warna

Aku menyebut diriku sebagai pelangi. Pelangi di musim hujan yang tak mampu terbiaskan, sebab hujan tak kunjung turun di langitku. Di langit dimana aku berdiri dan bersembunyi di balik awan. Alhasil, jadilah aku pelangi yang tak berwarna. Hanya mampu menunggu, menunggu, dan menunggu suatu hari nanti ada hujan yang turun di langitku.
Melihat bulan di langit temaram yang dikelilingi bintang membuatku iri. Begitu menyenangkan rasanya mewarnai hari dengan seseorang yang spesial di hati. Maka terbersit dalam angan untuk mencari keberadaan sang hujan. Sang penyegar yang mampu membiaskan warna-warnaku, agar tak lagi abu-abu. Namun, semakin aku mencari, semakin jauh rasanya hujan itu pergi. Maka dari itu, lagi-lagi, aku hanya mampu menunggu. Sampai datanglah hari ini.
Hari ini aku bersama Toni—teman satu kamarku di Asrama Pondok Pesantren ini—ditugaskan untuk mengganti genteng yang bocor di MTs yang masih satu atap dengan MA tempatku menuntut ilmu. Kami bertugas mengganti genteng yang bocor di kelas putri. Awalnya aku agak ragu, namun semuanya berhasil kutepis.
Aku berjalan di koridor kelas santri putri itu dengan membawa beberapa genteng yang masih baru. Sedangkan Toni membawa tangga setinggi tiga meter. Saat sampai di daun pintu kelas yang kami tuju, aku melihat sekelompok santri putri yang tengah tertawa lepas. Dari sekumpulan santri putri itu, kulihat seorang anak perempuan yang melepaskan jilbabnya sehingga tergerailah rambut hitam panjangnya.
Aku menatapnya lamat-lamat. Bak dentuman bedug dari beribu masjid yang disatukan, aku dapat mendengar dengan jelas jantungku berdentum kencang tak karuan. Aku baru menyadari bahwa ia teramat cantik. Dengan wajah yang natural dan rambut panjang yang terawat, ia bagaikan bidadari yang terlahir ke Bumi. Entah mengapa, sejak saat itu, aku  merasa langitku sudah mulai mendung. Artinya, sebentar lagi akan datang hujan yang akan membiaskan warna-warnaku, dan aku harap dialah hujanku.
“Woy, Rian, cepetan!” Lengkingan suara Toni tak kugubris. Aku masih saja asyik memandangi ukiran tangan Tuhan itu, Mahakarya Tuhan yang begitu indah, wajahnya.
Berbeda denganku, mendengar lengkingan suara Toni membuat si objek yang kupandang mengedarkan pandangan mencari sumber suara. Saat pandangannya diedarkan ke daun pintu, ia melihatku. Menyadari keberaan kami, ia bergegas memasang jilbab merah mudanya.
“Rian!” panggil Toni lagi dengan suara yang dinaikkan satu oktaf. Aku langsung menuju ke arah Toni, tak ingin mendengar suara toa enam oktafnya memasuki gendang telingaku lagi. Lantas aku langsung meletakkan tiga buah genteng yang kubawa tadi di bangku panjang di depan kelas tersebut, kemudian memegangi tangga yang mulai dinaiki Toni agar tak goyang. Dari posisiku sekarang, aku masih bisa mencuri-curi pandang ke arahnya karena masih berada di depan kelasnya.
“Rian, gentengnya!” Aku langsung melemparkan satu buah genteng kepada Toni. Dengan cekatan, ia berhasil menangkap genteng tersebut. Seandainya hari ini juga aku dapat menangkap hati perempuan berjilbab merah muda itu. Aku akan menangkapnya dengan cekatan, lebih dari Toni saat menangkap genteng. Ah, bagaimana mungkin. Bahkan aku tidak tahu apakah ia menyukaiku atau tidak.
***
            Langit telah menggelap, cahaya bintang pun telah berpendar di sekeliling bulan. Namun, bayang-bayangnya belum juga sirna dari pikiranku. Dia bagaikan hujan yang tiba-tiba turun mengguyur tubuhku. Sayang, saat ini aku masih bersembunyi di balik awan. Belum memiliki keberanian untuk jujur mengenai perasaanku. Aku takut, sebab ada dua kemungkinan yang kudapat jika berterus terang dengannya mengenai perasaan ini; diterima atau ditolak.
            “Rian, kamu kenapa sih, sejak kembali dari kelas santri putri melamun terus?” Toni memecah keheningan dengan pertanyaan yang sama sekali tak ingin kujawab.
            “Nggak kenapa-kenapa! Biasa aja.”
            “Jangan bohong! Aku sudah lama kenal kamu. Aku tahu arti dari sejuta ekspresi wajahmu. Dan hari ini aku simpulkan, bahwa ekspresimu kali ini menunjukkan bahwa kamu sedang dilanda kegalauan.”
            “Kamu sok tahu!” Aku masih bisa mengelak. Padahal dalam hati, aku membenarkan asumsi Toni.
            “Sudah ketahuan masih saja nggak mau ngaku! Tadi siang kamu mandangin Ratna di kelasnya, kan? Sampai-sampai panggilanku nggak kamu gubris.” Skak mat! Toni telah mengetahui semuanya.
            “Kalau suka langsung tembak saja, Ian!” ucapnya lagi.
            Aku melempar bantal ke arahnya. “Kamu sih gampang ngomong begitu. Tapi aku yang jalanin. Kalau ditolak, gimana?”
            “Aku berani bertaruh, jika malam ini kamu nembak dia, malam ini pula jawaban ‘iya’ akan kamu dapatkan!” jawab Toni yakin. Terdengar begitu yakin. Lantas, apa yang membuatnya seyakin itu.
            “Tuh kan, kamu sok tahu lagi!”
            Toni menghampiriku, ia menepuk pundakku. “Makanya jadi orang jangan terlalu fokus ke tumpukkan buku biologi saja! Begini kan jadinya, ada cewek cantik yang naksir malah nggak diketahui.”
            Aku belum sepenuhnya percaya dengan pernyataan Toni. Ratna, hujanku, menyukaiku? Sejak kapan? Bagaimana bisa? Tiba-tiba saja berjuta pertanyaan menyeruak di otakku. Namun hanya satu jawaban yang kuinginkan. Jawaban bahwa sang hujan bersedia membiaskan pelangi agar tak lagi abu-abu.
***
            Benar saja, keesokan harinya, dengan bantuan Toni dan Sofia—teman Ratna—aku berhasil bertemu dengannya di taman belakang sekolah. Karena kami memegang teguh ajaran agama, maka kami pun mempersilakan Toni dan Sofia untuk bergabung, tentu dengan jarak satu meter dari aku dan Ratna.
            Di depan Ratna, entah mengapa kata-kata yang kurangkai semalaman tak kunjung keluar. Lidahku kelu, tubuhku seakan berada di Kutub Utara dan terserang hipotermia, setetes keringat dingin pun mulai mengalir di pelipisku.
            Ratna yang melihatku salah tingkah begitu malah tertawa kecil. “Kakak kenapa?” tanyanya polos. Ah, bagaimana mungkin ia tak tahu. Bukankah sudah jelas bahwa aku sedang gugup.
            “Mmm, gini, Rat.” Aku menggaruk-garuk tengkuk yang sama sekali tidak gatal. “Aduh, gimana ngomongnya, ya?”
            “Kakak langsung ngomong aja.”
            Hari itu juga aku langsung mengutarakan semuanya pada Ratna. Memang ucapanku agak terputus-putus. Namun tak kuduga, Ratna menjawabnya dengan tidak terputus-putus. Dengan yakin ia menerima ajakanku itu. Benar kata Toni, Ratna telah lama menyukaiku. Hanya saja aku yang kurang peka ini tidak mengetahui bahwa benih-benih cinta telah lama ditanamkan Ratna kepadaku.
            Sejak hari itu. Sejak hari dimana aku berusaha jujur dengan perasaanku. Sekaligus hari dimana Ratna menerima ajakanku untuk memulai sebuah hubungan. Aku menemukan hujanku. Sesuai harapan, Ratna lah sang hujan yang mampu mewarnai hari-hariku.
            Hari setelah insiden pernyataan cinta, menjadi hari yang lebih berwarna. Kini, pelangi tak lagi abu-abu. Sebab di musim hujan tahun ini, pelangi telah memberanikan diri keluar dari persembunyiannya dan melihat langit luar. Hujan lah yang telah berhasil menarik pelangi dari balik awan, lantas hujan pula yang telah membiaskannya hingga sempurnalah ketujuh warnanya.
***
            Dua minggu setelah kami menetapkan hubungan, aku mulai sering mengajak Ratna bertemu di taman belakang. Tentu, aku tak luput membawa Toni dan Sofia agar tidak timbul berita yang macam-macam. Namun, kami selalu memisahkan diri dari Toni dan Sofia.
Bertemu dan mengobrol dengan Ratna tak pernah membuatku bosan. Ratna terlihat semakin cantik dari hari ke hari. Wajah natural tanpa polesan make up membuatnya semakin terlihat cantik. Memang benar-benar seperti bidadari yang sengaja diturunkan Tuhan ke Bumi. Betapa beruntungnya aku karena berhasil menangkap hatinya, yang tak kuduga bisa secepat ini.
            Hari-hari berikutnya kami jalani dengan baik. Aku dan Ratna memiliki kecocokan, sehingga setiap percakapan yang tercipta terasa mengalir dan tak ada putusnya. Bahkan kadang Toni dan Sofia yang kerap kami mintai tolong ketika melakukan pertemuan merasa sebal karena terlalu lama menunggu.
***
             “Rian! Rian, bangun, Ian!” Toni menggoyang-goyangkan tubuhku, membuat mimpi indahku buyar seketika. Kutepis tangannya yang terus saja memaksaku untuk bangun. Padahal ini masih tengah malam. Belum waktunya untuk mengakhiri tidur.
            “Rian, bangun! Ratna, Ian! Ratna!” Kudengar nama Ratna disebut membuatku langsung membelalakan mata. Ratna, ada apa dengan hujanku.
            “Ratna kenapa, Ton?” tanyaku khawatir.
            Toni menarik tanganku. “Kita ke kamar Ratna sekarang! Sofia udah nunggu di luar.”
            Aku menuruti saja ke mana Toni membawaku. Aku kalang kabut. Yang kupikirkan hanya Ratna. Khawatir dengan sang hujan yang telah berhasil membiaskanku itu. Kami mengendap-endap memasuki asrama putri. Memang hal itu sangat dilarang, namun apa boleh buat, yang terpenting saat ini hanyalah Ratna. Setelah memastikan bahwa keadaan aman tanpa sepengetahuan siapapun, aku langsung berlari menuju kamar Ratna.
            Kulihat wajah pucatnya dan deraian air mata yang menyebabkan mata indahnya menjadi sembab. Ratna terlihat kesulitan untuk bernapas.
            “Kak Rian,” panggilnya setelah mengetahui keberadaanku.
            Aku langsung menghampirinya. Tiba-tiba saja napasnya kembali normal. Namun kini napasku yang tak karuan, melihat wajahnya yang pucat memang tak memudarkan kecantikan alaminya, namun ia terlihat lemah. Hujan yang selama ini menyegarkanku, hujan yang terlihat kuat, kini terkulai lemah.
            Ratna menggenggam tanganku, seraya terus saja memanggil namaku, “Kak Rian,” serunya sambil sesegukkan.
            “Ratna kamu kenapa? Kamu sakit apa? Kenapa tiba-tiba begini?” tanyaku khawatir.
            Ia kembali tersedu-sedu. Kini tak dapat mengatur napasnya kembali. Aku segera memberinya segelas air putih di atas meja di samping tempat tidurnya.
            Setelah memastikan bahwa keadaannya sudah membaik, aku kembali menanyakan hal yang sama, “Ratna kenapa? Jelasin sama kakak.”
            Ratna mengembuskan napas perlahan, terlihat mengumpulkan tenaga untuk sekadar menjelaskan inti permasalahan yang membuatnya seperti ini.
            “Orang tua kita tidak merestui hubungan kita, Kak.”
            Sejak hari itu, aku merasa kembali menjadi pelangi yang tak berwarna. Pelangi abu-abu. Pelangi tanpa warna. Ternyata selama ini langit tak mengizinkan kami untuk bersatu. Mungkin benar yang dikatakan alam, bahwa sampai kapanpun hujan dan pelangi takkan pernah bisa bersatu di sebuah langit yang sama, karena pelangi hadir ketika hujan pergi. Di Bumi ini, tidak ada hujan yang dibarengi pelangi. Pelangi hanya muncul ketika hujan telah pergi, ketiga gerimis datang dan mengusir hujan. Mungkin aku dan Ratna tak bisa bersatu. Namun bagaimana jika aku membuat sejarah baru, bahwa di sebuah langit yang dinaungi cinta, ada guyuran hujan yang dihiasi pelangi.
***
            Setelah malam itu, setelah malam yang tak pernah kukehendaki untuk datang, aku tetap mencintai Ratna. Bahkan lebih mencintainya dari sebelumnya. Segala rasa takut kehilangan, bersarang di jiwaku. Ya, aku takut kehilangannya. Aku teramat takut kehilangan hujan yang selama ini membiaskanku.
            Namun malam ini, dengan melupakan segala masalah yang ada, aku mengajak Ratna bertemu. Hanya berdua. Kali ini tanpa bantuan Toni maupun Sofia.
            “Kak, aku minta maaf, Kak.” Tak kuhitung sudah berapa kali ia mengucap maaf.
            “Iya, Ratna, bukan kamu yang salah. Mungkin memang sudah takdirnya begini.”
            Sebutir air mata kembali mengalir membasahi pipinya, aku langsung menghapusnya, tak membiarkan wajahnya melukiskan kesedihan.
            “Ratna masih sayang sama kakak. Tapi kita udah nggak bisa sama-sama lagi. Ratna minta maaf.”
            Mendengar kalimat itu membuat dadaku terasa sesak. Rasanya tidak ada yang paling menyakitkan di dunia ini selain menerima kenyataan bahwa cinta kami tidak direstui.
            Kami menghabiskan malam itu dengan menangis bersama, tertawa bersama, tersenyum bersama di bawah langit temaram dengan jutaan bintang yang menghiasi bulan. Aku sangat iri dengan bulan. Yang setiap malam dikelilingi bintang yang berkerlap-kerlip. Seandainya aku bisa seperti bulan, tak mengapa bagiku hanya disinari satu bintang saja, yaitu Ratna.
            Malam itu, hanya untuk malam itu saja. Aku dapat merasakan kembali bahwa Ratna masih milikku. Aku tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Tak kupedulikan seberapa sembab mataku, seberapa banyak celotehan yang kudapat jikalau nanti ada yang melihat mataku yang sembab ini. Bahkan aku dan Ratna tak nampak was-was ketika salah satu ustadz kami di Pondok Pesanteren melewati kami. Namun untung saja ia tak melihat keberadaanku dan Ratna.
***
            Ternyata langit benar-benar mengambil tindakan. Ia menyeret sang hujan menjauhi pelangi, seakan tak bersedia jika guyurannya membiaskan pelangi. Maka pelangi hanya mampu berdiri sendiri di langit mendung, tanpa hujan yang membiaskannya seperti dahulu. Sungguh akhir dari musim hujan yang sangat menyedihkan. Pelangi kembali abu-abu.
            Hari ini aku mendapat kabar mengenai kepindahan Ratna. Tak kusangka ternyata orang tuanya benar-benar tak menyetujui hubungan kami. Padahal aku belum mengucapkan selamat tinggal kepada Ratna. Sebelum hari ini, memang Ratna sudah menyatakan untuk mengakhiri hubungan dengan jutaan kata maaf yang ia lontarkan. Aku menerima saja walau sebenarnya tidak ikhlas sama sekali. Namun, apa boleh buat.
            Setelah kepindahan Ratna, aku kembali dirundung sepi. Tak ada niatan untuk mencari seseorang yang baru yang dapat menggantikan posisi Ratna. Karena selamanya, pelangi akan mencintai hujan. Meski nantintya harus menelan kekecewaan jikalau suatu hari nanti melihat hujan menari di langit yang tertutupi awan bersama mendung.
            Sejak saat itu, aku berusaha menjadi aku yang dulu. Yang hanya terfokus dengan tumpukan buku pelajaran yang sebagian besar dibenci siswa lainnya. Aku melampiaskan kegalauan yang menyerang dengan belajar seharian. Ya, memang semestinya begitu. Daripada terus-terusan mengharapkan apa yang seharusnya tidak diharapkan. Walau sebenarnya hati berkata lain. Hati masih mengharapkan Ratna, namun kenyataan menentang itu semua.
            Suatu hari ketika kerinduanku terhadap Ratna memuncak, aku mencoba menemuinya di kediamannya. Namun, nihil, satu jam aku berdiri mondar-mandir tak karuan di depan gerbangnya, satu jam pula harus kutelan kekecewaan. Ratna tak kunjung keluar. Bahkan sekadar wajahnya pun tak terlihat. Aku sungguh merindukannya.
***
            Jauh hari setelah itu, setelah kelulusanku, aku memutuskan untuk merantau ke kota seberang. Sekaligus untuk menghilangkan bayang-bayang Ratna yang masih memenuhi kalbuku.
            Beberapa bulan di sana, pelangi bertemu matahari. Matahari yang ternyata selama ini ikut andil membiaskan pelangi. Sayang, selama ini pelangi tak tahu bahwa sebenarnya bukan hanya hujan yang ia butuhkan agar mampu terbias sempurna. Namun juga membutuhkan percikan sinar matahari untuk menyempurnakan ketujuh warnanya.
            Dialah Sofia, teman Ratna. Dia adalah matahari yang selama ini menyinariku tanpa sepengetahuanku. Akhirnya kuputuskan untuk menyerah dengan hubunganku dengan Ratna. Walau dahulu aku berharap kisahku dengan Ratna bisa seperti Kisah Romeo dan Juliet yang ditulis Shakespeare dalam drama tragedinya. Namun harus kuyakinkan bahwa kami bukan Romeo dan Juliet yang rela mati demi bisa bersama.
            Dan kini, aku akan kembali menjadi pelangi di musim panas yang telah mendapatkan matahari yang menyinariku. Tak mengapa jika warna-warnaku redup lantaran tak terkena percikan hujan. Karena mulai saat ini, aku akan menjadi pelangi di musim panas yang berdiri tegak disinari kasih tulus matahari.
***





Tulisan ini berdasarkan kisah nyata tutor Bahasa Inggrisku, Mr. Ryan.
Terima kasih karena sudah mau membagikan kisahnya serta memberi izin untuk dipublikasikan dalam blog amatir ini, hehe :)
Tetap semangat, ya. Terima kasih selalu sabar dan menyenangkan dalam mengajar kami--yang sebentar lagi akan berjuang dalan Ujian Nasional. 

(Selong, 12 September 2015)


Kamis, 01 September 2016

UMM-Inn : Hotel Pendidikan Pertama di Malang


Malang adalah salah satu kota yang menjadi destinasi favorit bagi masyarakat untuk meluangkan waktu libur. Tak jarang ketika musim liburan datang, banyak wisatawan dari luar kota yang datang ke malang untuk menghabiskan libur panjang mereka.

Selain karena di Malang banyak terdapat destinasi wisata yang menarik dan sayang untuk di lewatkan, udara yang sejuk dan dingin menjadikan para wisatawan betah berlama-lama di kota yang dijuluki "Kota Apel" ini.

Nah, di antara para pembaca blog ini yang notabene berasal dari luar kota Malang atau bahkan luar Jawa Timur, adakah yang sudah memiliki rencana untuk menghabiskan liburan di Malang? 

Aku yakin pasti ada. Maka dari itu tujuanku kali ini adalah untuk mendeskripsikan salah satu tempat penginapan alias hotel di Malang yang letaknya sangat strategis, nyaman, aman, dan dijamin akan membuat liburan teman-teman semakin seruuu!

Hotel yang aku maksud disini adalah

Destinasi Wisata Air dan Wisata Kuliner Milik UMM


Universitas Muhammadiyah Malang sekaligus kampusku ini memang memiliki banyak unit usaha. Mulai dari hotel, bookstore, rumah sakit, dan masih banyak lagi. 


Nah, kali ini yang akan aku bahas adalah dua unit usaha UMM yang cukup terkenal bahkan 'sangat' terkenal di Kota Malang yang berlokasi di Sengkaling.

Kedua unit usaha tersebut adalah

Masjid AR. Fahruddin dan SPBU UMM


Kali ini aku mau bahas fasilitas lainnya yang dimiliki UMM. Kali ini aku akan membahas mengenai Masjid AR. Fahruddin milik UMM yang bersebelahan dengan SPBU UMM. 


Kita mulai dengan masjid yang cukup megah milik UMM yakni Masjid AR. Fahruddin. Ada yang unik dari masjid ini, yakni masjid ini teruji kekokohannya setelah beberapa kali mengalami

RS UMM dan Masjid KH M. Bedjo Darmoleksono


Kali ini, aku datang lagi bersama deskripsi singkat dari Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah Malang beserta masjid unik yang ada di dalamnya.


Rumah sakit yang beralamat di Jl. Tlogomas No.45, Landungsari, Dau, Kota Malang, Jawa Timur 65144, Indonesia, ini salah satu rumah sakit di Kota Malang yang dikelola oleh sebuah universitas, yakni Universitas Muhammadiyah Malang.

Rumah sakit ini dibangun pada tahun 2009 yang proses pembangunannya dilaksanakan setelah mendapatkan

Bookstore UMM : Rumah Kedua si Kutu Buku


Tidak perlu ditanya dimana tempat favorit para kutu buku. Karena sudah barang tentu jawabannya adalah toko buku atau bookstore. Tempat dimana mereka merasa kenyang tanpa harus mengunyah makanan. Tempat dimana kita dapat menuju setiap sudut dari dunia tanpa perlu menyeberangi lautan. Serta tempat dimana gudang ilmu itu berada.

Jika kamu salah satu "si kutu buku" itu, maka buktikanlah dengan cara membaca postingan ini hingga tanda titik terakhir :D

Perkembangan Teknologi Vs Perkembangan Kedewasaan Anak Sebelum Waktunya




Tidak akan pernah ada habisnya jika sudah membicarakan mengenai perkembangan teknologi. Karena sejatinya perkembangan teknologi saat sekarang ini akan terus berkembang pesat seiring berjalannya waktu.

Perkembangan teknologi yang terus berkembang ini memberikan banyak sekali dampak positif bagi manusia, salah satunya dapat meringankan pekerjaan manusia.

Namun, kita tak boleh hanya berdiam diri menikmati sisi positifnya. Karena tak dapat dipungkiri, perkembangan teknologi saat ini banyak membuat anak-anak menjadi dewasa sebelum waktunya. Atau kasarnya bisa disebut 'karbitan'.